Ilustrasi Logo Liga 1. (sumber: 123sportnews.com)

PSSI sudah mewacanakan kompetisi Liga 1 2020 bakal dilanjutkan kembali pada bulan September atau Oktober tahun ini, walaupun kurva penyebaran virus corona di Indonesia masih meningkat.

Dengan berbagai alasan, PSSI ingin kompetisi Liga 1 tetap akan dilanjutkan dengan tetap mematuhi protokol keamanan dan kesehatan, di tengah pandemi virus Corona.

Pihak Kemenpora pun sudah merestui apa pun keputusan PSSI terkait kelanjutan kompetisi musim ini, baik itu Liga 1 atau Liga 2.

Bahkan PSSI juga mewacanakan nantinya Liga 1 2020 tidak akan ada sistem degradasi. Hal itu sudah pasti menuai pro dan kontra dari beberapa kalangan, terutama dari pihak klub baik itu Liga 1 atau Liga 2.

Beberapa pihak juga mengungkapkan, jika Liga 1 2020 berakhir tanpa tim yang terdegradasi, akan berefek kurang bagus bagi persepak bolaan di tanah air.

Memang masuk akal jika banyak pihak yang tidak setuju dihapuskannya sistem degradasi Liga 1 musim ini, karena akan menimbulkan beberapa efek negatif

Berikut 3 efek negatif jika Liga 1 musim ini digelar tanpa ada sistem degradasi:

1. Kecemburuan Klub Liga 2

Jika sistem degradasi ditiadakan, sudah pasti yang pertama kali menentang adalah klub Liga 2. Pasalnya klub Liga 2 sudah mempertaruhkan segalanya termasuk finansial untuk bisa berlaga demi naik kasta.

Jika degradasi ditiadakan, otomatis tidak ada tim promosi dari Liga 2. Padahal mereka sudah mengeluarkan banyak biaya untuk mendapatkan pemain berkualitas agar bisa naik kasta.

Dengan sistem tanpa degradasi, sudah pasti klub Liga 2 merasa dianaktirikan. Karena serharusnya mereka yang berhak naik kasta menggantikan tim Liga 1 terdegradasi.

2. Tidak Profesional di Mata Sepak Bola Dunia

Kompetisi tanpa degradasi, sama halnya dengan tidak peduli dengan naik turunnya kualitas sepak bola di tanah air.

Tanpa degradasi, semua tim akan sama saja, hanya peringkat yang membedakan. Mereka yang tetap berada di Liga 1 tetap saja punya nama mentereng ‘kasta teratas’, padahal seharusnya mereka sudah turun kasta.

Hal itu sudah pasti akan membuat banyak pihak menganggap persepak bolaan di Indonesia tidak profesional, karena tanpa ada yang naik kasta atau turun kasta.

Dunia luar akan meremehkan klub-klub Indonesia, dan menganggap semua kualitas klub sama saja. Baik itu Liga 1 atau Liga 2 sama-sama tidak naik dan tidak turun.

3. Hilangnya Jiwa Rivalitas Munculnya Jiwa ‘Kasta Teratas’

Sudah dapat dipastikan jika kompetisi tanpa degradasi akan membuat beberapa klub tidak memiliki target ke depannya.

Karena bagi klub-klub yang kurang berkualitas tidak bakalan turun kasta, mereka tetap berada di ‘kasta teratas’ Liga Indonesia.

Jika sudah memiliki pemikiran tersebut, maka tidak akan ada lagi jiwa rivalitas, karena mereka sudah nyaman berada di kompetisi level tertinggi dan mendapatkan subsidi dari PSSI atau operator liga.