Ali Sunan. (FOTO: Gilabola)
PSIS Semarang di saat menjuarai Liga Indonesia (Ligina) V 1998-1999, memiliki sosok jenderal lapangan tengah yang jadi roh permainan skuad Edy Paryono.
Pemain itu yakni Ali Sunan, Si Nomor Delapan yang namanya melegenda hingga kini bagi pencinta sepak bola di Kota Lunpia.
Di usia 29 tahun, pria yang sebelumnya memperkuat PKT Bontang, pada 1991 sampai 1994 berhasil meraih gelar nasional yang didamba-dambakan pemain.
Bahkan selain membawa Laskar Mahesa Jenar menjadi juara untuk kali pertama di Ligina, Ali Sunan behasil meraih gelar pemain terbaik di musim tersebut.
Bersama rekan-rekannya, Ali Sunan mampu mengalahkan Persebaya Surabaya dengan skor 1-0 lewat gol kemenangan yang dicetak Tugiyo di Stadion Klabat Manado.
Prestasi ini gagal diulang lagi oleh klub pujaan Panser Biru dan Snex hingga 21 tahun berselang alias sampai saat ini.
Prestasi yang diraih Ali Sunan, membuatnya dipanggil Pelatih Tim Nasional Indonesia saat itu yakni Bernard Schumm untuk memperkuat Skuad Garuda di ajang SEA Games XX Brunai Darussalam 1999.
Selain dirinya, dari skuad PSIS juga ada nama I Komang Putra (kiper) dan Agung Setiabudi (bek) yang merapat ke pemusatan latihan yang dipimpin pelatih asal Jerman tersebut.
Momen itu menjadi kesempatan terbarunya setelah enam tahun tidak dipanggil ke Tim Merah Putih.
Sebab Ali Sunan saat usianya masih 23 tahun pernah memperkuat Timnas Indonesia di ajang Piala Kemerdekaan 1991 dan Piala Asia 1993.
Dilansir dari channel Youtube ANTV Sports Official, di SEA Games XX Brunai Darussalam 1999, Ali Sunan mengantarkan Timnas Indonesia meraih medali perunggu.
Setelah mengalahkan Singapura lewat adu penalti dengan skor 4-2. Sebelumnya Skuad Garuda gagal ke final karena dikalahkan Vietnam dengan skor 0-1.
Ali Sunan di momen kembalinya berbaju merah-putih dengan nomor delapan yang selalu dipilihnya,  berhasil mencatatkan satu gol.
Torehan itu dipersembahkan saat menhadapi Malaysia di fase Grup B SEA Games XX Brunai Darussalam 1999. Saat itu Timnas Indonesia mempermak Malaysia dengan skor 6-0.
Selain gol Ali Sunan, kemenangan Aji Santoso dan kolega juga dipersembahkan lewat satu gol Haryanto Prasetyo, dua gol Bambang Pamungkas, dan dua gol Rochy Putiray.
Setelah mengantarkan PSIS juara Ligina V 1998-1999 dan Timnas Indonesia meraih medali perunggu di SEA Games XX Brunai Darussalam 1999.
Ali Sunan hijrah ke Persija Jakarta di usianya yang sudah 30 tahun. Musim selanjutnya yakni di 2000-2001, dia pindah ke Jawa Timur untuk memperkuat Persela Lamongan.
Setelah itu pemilik 10 penampilan internasional besrama Tim Nasional Indonesia ke PSJS Jakarta Selatan di 2002 sampai gantung sepatu pada 2005.

Menjadi Pelatih SSB dan Bisnis Alat Olahraga

Lalu apa kabar sang legenda PSIS Semarang saat ini? Dilansir dari Indosport.com, Ali Sunan saat ini bekerja sebagai pengecek lampu mercusuar.
Di bawah Koperasi Desa Socorejo di Pelabuhan Semen Indonesia yang ada  di Tuban.
Selain itu dia juga masih bergelut di dunia sepak bola dengan menjadi tim pelatih sepak bola usia dini.
“Saya juga masih melatih sekolah sepak bola di SSB Soco Rejo, diberi tanggung jawab. Kebetulan saya kan mantan pemain bola,” kata Ali Sunan.
Pria yang saat ini berusia 49 tahun itu juga memiliki bisnis pribadi di Lamongan. Bisnis itu berupa alat perlengkapan olahraga.
“Kalau bisnis pribadi di rumah. Ada toko olahraga yang dikelola istri,” lanjutnya.
Ali Sunan juga mengaku rindu kembali ke Semarang. Dia ingin suatu saat ada di tengah-tengah pemain muda Akademi PSIS Semarang.
Bukan serta merta untuk melatih, tapi membagikan pengalam n dan motivasi.
Sebab saat ini dalam tiga tahun terakhir PSIS Semarang berjuang untuk mengakhiri puasa gelar yang tertahan selama 21 tahun lamanya.