Arab Saudi Akhiri Lockdown di Saat Kasus Meningkat, Bagaimana Nasib Ibadah Haji?
Arab Saudi Akhiri Lockdown di Saat Kasus Meningkat, Bagaimana Nasib Ibadah Haji?. (Foto: New York Post)

Edisi88 – Pada hari Minggu (21/6) kemarin, Arab Saudi resmi mengakhiri periode lockdown nasional dan mengangkat pembatasan untuk mengizinkan bisnis, termasuk salon dan bioskop, untuk kembali beroperasi.

Setelah tiga bulan melalui periode lockdown, Arab Saudi akhirnya membuka kembali aktivitas ekonomi, namun itu bersamaan dengan lonjakan jumlah infeksi harian virus corona.

Aktivitas keagamaan juga sudah dibuka lagi, termasuk di kota suci Mekkah, sebagaimana yang diwartakan oleh media kepunyaan negara, hanya beberapa pekan sebelum ibadah haji tahunan dimulai.

Namun demikian, penerbangan internasional dan para peserta haji masih dilarang dan perkumpulan sosial untuk lebih dari 50 orang masih dilarang menurut Kementrian Dalam Negeri Arab Saudi.

Namun Komisi Umum untuk Media Audiovisual Arab Saudi telah mengumumkan pembukaan kembali bioskop-bioskop di seantero negeri, dengan aturan ketat social distancing.

“Kami bahagia dan juga waspada pada saat bersamaan. Saya sudah tidak cukur rambut selama lima bulan,” kata Bashayer seorang pelanggan salon di ibu kota Arab Saudi, Riyadh.

“Namun kami takut. Saya tetap mencuci tangan seketika setelah menyentuh apa pun, selagi seorang penata rambut harus mengenakan masker dan pelindung wajah untuk mencukur rambutnya,” sambungnya.

Arab Saudi, yang merupakan negara dengan jumlah kasus positif terbanyak di seantero Teluk Arab, telah mengalami peningkatan dalam jumlah kasus semenjak aturan lockdown dilonggarkan pada pengujung bulan Mei lalu.

Pada hari Minggu (21/6) kemarin, jumlah total infeksi telah mencapai 157.612 kasus, selagi 1.267 di antaranya meninggal dunia, berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan Arab Saudi.

Unit Perawatam Intensif (IGD) di ibu kota Riyadh dan Jeddah juga dipenuhi oleh pasien virus corona, yang membuat sistem kesehatan nasional cukup kewalahan, menurut warta dari AFP.

Namun keputusan untuk mengangkat peraturan lockdown didasari oleh krisis ekonomi yang luar biasa yang menghantam Arab Saudi, diperparah oleh penurunan signifikan harga minyak sebagai dampak dari pandemi virus corona.

Masjid-masjid di luar kota Mekkah sudah kembali dibuka pada pengujung bulan Mei, namun dengan aturan ketat soal social distancing dan protokol kesehatan lainnya.

Namun pihak kerajaan mengatakan bahwa ibadah umrah ke Mekkah dan Madinah masih akan ditutup hingga batas waktu yang belum diketahui, seiring dengan kecemasan mengenai pandemi virus corona yang bisa menyebar di kota tersuci umat Islam tersebut.

Otoritas masih belum mengumumkan kapan ibadah haji akan diperbolehkan kembali, namun mendesak muslim untuk bersiap jikalau ibadah haji tahun ini benar-benar ditunda.

Namun masjid-masjid di kota suci Mekkah sudah bisa dibuka lagi mulai hari Minggu lalu, setelah ditutup selama tiga bulan terakhir seiring dengan pandemi virus corona.

Sekitar 1.500 tempat suci pun bersiap untuk menyambut para pendatang, sebagaimana yang diwartakan oleh Al-Ekhbariya, media kepunyaan negara, dengan para pekerja sudah mendisinfeksi lantai dan karpet.

Pada tahun lalu, sekitar 2,5 juta orang dari seluruh penjuru dunia berkunjung ke Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah haji, yang diwajibkan untuk umat muslim setidaknya satu kali dalam hidup mereka, jika mampu.

Pemerintah Indonesia sendiri telah mengambil keputusan untuk membatalkan keberangkatan ibadah haji pada tahun ini, dan mereka bukanlah satu-satunya yang membatalkan keberangkatan ke kota suci Mekkah pada tahun ini.

Setidaknya ada 7 negara lain yang telah mengumumkan untuk tidak akan melaksanakan ibadah haji pada tahun ini. Di antaranya adalah Afrika Selatan, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, India, Mesir, dan uzbekistam.