Australia
Ilustrasi. (Foto: Antara News)

Edisi88 – Negara bagian terpadat kedua di Australia telah melaporkan pada hari Senin (29/6) ini bahwa mereka mempertimbangkan untuk menerapkan aturan pembatasan social lagi setelah melaporkan jumlah kasus harian tertinggi sejak lebih dari dua bulan terakhir.

Selagi ada banyak negara bagian dan daerah yang masih belum melaporkan kasus terbaru, Victoria telah mendeteksi kasus harian baru sebanyak 75 kasus dalam 24 jam terakhir, yang terbesar dalam sehari sejak tanggal 11 April lalu.

Lonjakan harian tersebut menimbulkan kecemasan mengenai timbulnya gelombang kedua dari wabah di Australia, setelah selama beberapa pekan terakhir melaporkan jumlah kasus harian baru kurang dari 20 per hari.

Selagi kasus memuncak, Victoria telah meningkatkan jumlah pengetesan masif dan pimpinan otoritas kesehatan negara bagian mengatakan bahwa mereka tengah mempertimbangkan untuk mewajibkan kembali aturan pembatasan sosial.

“Mengubah hukum adalah sesuatu yang harus kami pertimbangkan karena kami harus melakukan pa pun yang diperlukan untuk membalikkan situasi ini,” kata Brett Sutton kepada para reporter di Melbourne, dikutip dari The Jakarta Post.

Pada bulan Mei lalu, Victoria, yang memiliki populasi enam juta orang Australia, mulai mengangkat aturan yang membatasi pergerakan sosial warganya, sebulan lebih cepat daripada yang diperkirakan karena penyebaran virus telah melambat.

Pembatasan tersebut, juga termasuk mewajibkan restoran dan kafe untuk hanya melayani pembelian untuk dibawa pulang bukan makan di tempat, menutup sekolah, dan menangguhkan seluruh acara keolahragaan terbukti sukses untuk memperlambat penyebaran COVID-19.

Benarkah pandemi sudah memasuki gelombang kedua?

Di Amerika Serikat, yang jumlah kasus barunya telah berkisar konsisten di angka 20 ribu per hari selama beberapa pekan, jumlah infeksi telah kembali meningkat. Pada hari Jumat (26/6) lalu, Amerika Serikat melaporkan jumlah infeksi tertinggi sejak awal pandemi, dengan lebih dari 40 ribu kasus baru terdeteksi hanya dalam 24 jam, menurut data dari Pusat Penanganan dan Pencegahan Penyakit.

Pada hari Kamis (25/6), direktur regional Eropa untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Hans Kluge, mengatakan bahwa ada 30 negara dan daerah yang mengalami peningkatan jumlah kasus kumulatif selama dua pekan terakhir, selagi mereka melonggarkan peraturan social distancing.

Namun apakah ini merupakan pertanda kemunculan gelombang kedua, para ahli masih belum bisa menyimpulkan karena keambiguan pada istilah itu sendiri. Banyak yang berhati-hati dalam mendeklarasikan peningkatan jumlah kasus baru dan menolak adanya gelombang kedua.

Anthony Fauci, direktur dari Insitut dari Penyakit Alergi dan Infeksi Nasional Amerika Serikat, berbicara pada tanggal 18 Juni lalu dalam sebuah wawancara dengan The Washington Post, bahwa Amerika Serikat masih dalam gelombang pertama, terlepas dari jumlah penurunan kasus.

John Matthews, seorang profesor kehormatan di Universitas Melbourne untuk Sekolah Populasi dan Kesehatan Global, mengatakan bahwa gelombang kedua pada dasarnya dikarakterisasi dengan penurunan dramatis diikuti dengan peningkatan signifikan jumlah kasus.

“Namun tidak pernah ada yang benar-benar mendefinisikan skala yang diperlukan untuk mengkategorikan sesuatu sebagai gelombang kedua, entah itu waktu, atau ruang, atau skala dari jumlah kasus yang berkaitan,” tutur Matthews, dikutip dari South China Morning Post.

Pada pandemi sebelumnya, Flu Spanyol pada tahun 1918 silam yang memakan 50 juta korban jiwa di seluruh dunia. Fenomena gelombang kedua diklaim sebagai gelombang yang jauh lebih mematikan daripada yang pertama. Itu tiba pada musim gugur, hanya beberapa bulan setelah gelombang pertama. Selagi gelombang ketiga juga muncul di beberapa negara pada tahun 1919.