Logo AS Roma

Nasib Parma yang bangkrut dan terlempar ke Serie D Italia usai mengarungi musim 2014-2015 silam di Serie A Italia, menghantui AS Roma saat ini.

Giallorossi terancam mengalami kebangkrutan akibat pandemi virus corona (Covid-19) yang membuat kompetisi dihentikan dan klub tidak bisa mendapatkanpemasukan dari sektor tiket penonton.

Dilansir dari laman resmi AS Roma, mereka mengklaim merugi 126,4 juta Euro atau sekitar Rp 2 triliun di tahun ini dari dampak Covid-19 ini.

Kebijakan lockdown di Italia juga membuat manajemen klub kesulitan menjual merchandise.

Apalagi AS Roma musim ini juga tidak berlaga di Liga Champions, sehingga kerugian yang didapatkan lebih sekitar empat kali lipat dari musim sebelumnya.

Sebab di musim 2018-2019, klub pengoleksi tiga gelar scudetto dan sembilan juara Coppa Italia ini merugi 29,5 juta Euro.

Di awal musim 2019-2020, AS Roma sempat mendapat angin segar saat ada nama Dan Friedklin,yang dikabarkan akan membeli saham klub ini.

Dan membuat neraca keuangan mereka sehat. Namun sampai saat itu hal itu tidak teralisasi.

Padahal AS Roma juga memiliki utang sebesar 278,5 juta Euro yang sampai saat ini belum bisa dibayarkan. Sehingga mereka butuh investor untuk menyelamatkan klub dari kebangkrutan.

Kondisi seperti ini juga bisa membuat AS Roma terjerat hukuman Financial Fair Play (FFP) yang diberlakukan federasi sepak bola Eropa, UEFA sejak 2011.

Sebab neraca keuangan mereka tidak seimbang untuk menjalani musim baru nanti. Padahal FPP itu sebenarnya dibuat agar klub bisa terhindar kerugian dan dari jeratan utang.

Hal ini mengingat banyak klub yang korjoran membeli pemain tapi tidak cermat menghitung keseimbangan finansial.

Hukuman FPP pernah diterima AS Roma bersama Inter Milan pada 2015 silam. Lalu akhirnya hukumanitu dicabut pada 2018.

setelah AS Roma melakukan perjuangan berat untuk menetralkan neraca keuangan, dengan melepas Mohamed Salah ke Liverpool, Leandro Parades ke Zenit Saint Petersburg, dan Antonio Rudiger ke Chelsea.

Kini, bayang-bayang kebangkrutan Parma di Maret 2015 lalu giliran makin menghantui klub kebanggan Romanisti ini.

Sebab saat itu Gialloblu juga terlilit hutang hingga mencapai 100 juta Euro.

Akan sangat disayangkan jika AS Roma, klub yang masuk dalam jajaran klub elite Serie A Italia harus hilang namanya di kasta tertinggi sepak bola Negeri Pizza tahun depan.

Apalagi, hal ini mengancam mereka jelang 20 tahun tidak merasakan menjuarai Serie A Italia, setelah terakhir di musim 2000-2001 lalu.

Saat itu klub ini sangat disegani dengan trio penyerang, Vincenzo Montella, Francesco Totti dan Gabriel Batistuta yang total mencetak 68 gol dalam semusim.

AS Roma di dua dekade lalu juga selalu menjadi calon perai juara dengan komando Marcos Cafu di lini belakang.

Pernah Merugi Disaat Raih Pendapatan Terbanyak di Italia

Masalah keuangan sudah akrab bagi AS Roma, sejak musim 2010-2011 lalu.

Padahal saat itu mereka tercatat dalam laporan keuanan yang diterbitkan konsultan Deloitte sebagi klub yang memiliki pendapatan terbanyak di Italia.

Namun di saat yang sama mereka memiliki kerugian bersih sebesar 30,5 juta Euro, setelah gagal membayar pinjaman ke bank dan tidak ada keuntungan dari penjualan pemain AS Roma saat itu.

Hal itu diperburuk pada kebijakan pembelian pemain mereka di musim 2011-2012 di masa kepelatihan Luis Enrique.

Pengeluaran sebesar 50 juta Euro dilakukan AS Roma demi mendatangkan beberapa pemain bintang seperti Maarten Stekelenburg (Ajax Amsterdam).

Gabriel Heinze (Olimpique Marseille) , Miralem Pjanic (Olimpique Lyon), Erik Lamela (River Plate), Bojan Krkic (Barcelona), Mario Boriello (AC Milan) hingga Dani Osvaldo (Espanyol).

Namun perjudian itu gagal membuat AS Roma meraih prestasi. Bahkan mereka gagal lolos ke kompetisi Eropa karena berada di posisi ketujuh klasemen akhir Serie A italia.

Tidak adanya pemasukan dari ajang Eropa musim selanjutnya membuat kerugian mereka semakin menjadi-jadi.

Sempat mendapatkan investor baru di 2014, tapi neracakeuangan mereka sudah goyah dalam tiga musim terakhir.

Sehingga pada 2014 mereka melanggar FPP dan musim berikutnya AS Roma menjalani hukuman dari UEFA.