Lebih Dari 100 Kasus Baru COVID-19 di Beijing
Ada Lebih Dari 100 Kasus Baru COVID-19 di Beijing (Foto: The Strait Times)

Edisi88 – Lebih dari 100 kasus baru terjangkit virus corona muncul di Beijing belakangan ini, yang berpotensi untuk melalui gelombang kedua dari wabah ini, sebagaimana pernyataan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Senin (15/6) kemarin.

Selagi pembatasan lockdown sudah mulai dilonggarkan dan negara-negara di Eropa sudah membuka perbatasan mereka, WHO memperingkatkan negara-negara untuk tetap waspada soal potensi kemunculan kembali infeksi COVID-19.

Agensi kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mengatakan bahwa belum ada kasus kematian baru yang dicatatkan sejauh ini di ibu kota Cina tersebut, namun menambahkan bahwa Beijing harus tetap waspada karena luasnya daerah dan konektivitas.

“Meskipun di negara-negara yang telah memperlihatkan keberhasilan menekan angka penularan, negara-negara tersebut harus tetap waspada mengenai potensi kemunculan kembali infeksi,” kata direktur jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam sebuah konferensi pers virtual.

“Pekan lalu, Cina melaporkan satu klaster baru kasus di Beijing, setelah lebih dari 50 hari tanpa satu kasus pun di kota itu. Kini lebih dari 100 kasus telah terkonfirmasi. Asal dan perpanjangan dari wabah tersebut masih diinvestigasi.”

Wuhan, tempat virus tersebut bermula pada pengujung tahun 2019 lalu, sudah tidak lagi mencatatkan penularan lokal selagi krisis menghantam seluruh dunia.

Maria van Kerkhove, pimpinan teknis penanganan COVID-19 WHO, mengatakan dalam konferensi pers di Jenewa: “Pemahaman saya adalah tidak ada kasus kematian yang terasosiasi [dengan infeksi COVID-19] sejauh ini.”

Pengetesan di Pasar Beijing Terus Berlanjut

Otoritas kesehatan kota Beijing melaporkan bahwa setidaknya ada 27 kasus baru yang dilaporkan pada hari Senin (15/6) kemarin, yang membawa total kasus kini telah mencapai 106 sejak muncul di pasar Xinfadi, distrik Fengtai, pada hari Kamis (11/6) lalu.

Gao Fu, direktur dari Pusat Penanganan dan Penanggulangan Penyakit Cina, mengatakan bahwa pengurutan dan analisa sampel virus telah selesai dilaksanakan. Dan berbicara pada sebuah pertemuan pada hari Senin malam, Gao mengatakan bahwa pihaknya sudah berusaha menelusuri asal dari wabah terbaru ini.

Cina Memimpin Penyelidikan

Direktur darurat WHO, Mike Ryan, mengatakan bahwa negara-negara telah mengimplementasikan penanganan langsung dan komprehensif yang secara umum mampu menahan klaster baru.

“Namun begitu, Beijing adalah sebuah kota besar dan kota yang sangan dinamis dan terhubung, jadi selalu ada kecemasan,” kata Mike Ryan, dikutip dari The Jakarta Post.  “Dan saya pikir Anda bisa melihat bahwa level kecemasan dari respons otoritas CIna, jadi kami menelusurinya dengan seksama.”

Dia mengatakan bahwa WHO sudah menawarkan bantuan dan dukungan kepada otoritas Cina memimpin penyelidikan, dan mungkin memperkuat timnya sendiri di Beijing dalam waktu beberapa hari ke depan, selagi penyelidikan terus berjalan.

“Sebuah klaster seperti ini adalah kecemasan dan itu perlu diinvestigasi dan dikendalikan, dan itulah yang sedang dilakukan oleh otoritas Cina saat ini,” kata Ryan.

Virus corona baru atau COVID-19 telah membunuh sekitar 440 ribu orang di seluruh dunia dan menginfeksi setidaknya 8 juta orang sejak pertama kali muncul di Cina pada Dsember lalu, berdasarkan data yang dilansir dari Worldometers.

Tedros mengatakan bahwa itu memerlukan waktu lebih dari dua bulan untuk kasus pertama hingga mencapai 100 ribu, namun selama dua pekan terakhir, lebih dari 100 ribu kasus sudah dilaporkan kepada WHO hampir setiap hari.

Hampir 75 persen dari kasus baru berasal dari 10 negara saja, katanya, kebanyakan dari benua Amerika dan Asia bagian selatan. Namun begitu, ada peningkatan jumlah kasus juga di Afrika, Eropa Timur, Asia Tengah, dan Timur Tengah.