Rapid Test COVID-19 di Indonesia
Rapid Test COVID-19 di Indonesia. (Media Indonesia)

Edisi88 – Hasil penelitian teranyar membuktikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang berada di urutan terbawah dalam daftar negara teraman di dunia dalam menghadapi pandemi virus corona alias COVID-19.

Dalam studi tersebut, Indonesia berada di peringkat ke-97 dan mencatatkan penilaian yang relatif rendah dalam hal keamanan dan menangani wabah virus corona dari 200 negara yang dinilai di seluruh dunia.

Penelitian ini dilaksanakan oleh Deep Knowledge Group, sebuah perusahaan konsorsium dan nirlaba yang dimiliki oleh Deep Knowledge Ventures, sebuah perusahaan investasi yang didirikan di Hong Kong pada tahun 2014 silam.

Mereka menilai berdasarkan 130 parameter kuantitatif dan kualitatif dalam menjaring lebih dari 11.400 data dari kategori seperti efisiensi karantina, pemantauan dan pendeteksian, kesiapan sistem kesehatan, dan efisiensi pemerintah.

Berdasarkan studi tersebut, Indonesia berada di kasta ketiga, yang terdiri dari 60 daerah dan teritorial, termasuk Amerika Serikat, Britania Raya, Prancis, Italia, Brasil, Spanyol, Thailand, India, dan Filipina.

Dalam penelitian tersebut, kasta ketiga adalah negara-negara yang secara teori seharusnya bisa mencatatkan nilai yang lebih tinggi, mengingat sumber daya sistem kesehatan, pemerintah dan manajemen krisis mereka.

Namun demikian, Indonesia menanganinya jauh di bawah ekspektasi. Negara ini mencatatkan 450 poin, yang masih berada di bawah rataan daerah Asia Pasifik, yaitu pada 502 poin.

Sementara itu, Singapura menjadi satu-satunya negara yang berasal dari Asia Tenggara yang mampu menembus lima besar dunia dengan torehan 744 poin, bersama dengan Swiss di peringkat teratas, Jerman di urutan kedua, kemudian Israel dan Jepang di tempat ketiga dan kelima.

Negara teraman kedua dari COVID-19 di Asia Tenggara adalah Vietnam, yang menempati peringkat ke-20 di dunia, diikuti oleh Malaysia di peringkat ke-30, kemudian Thailand (47), Filipina (55), Myanmar (83), Indonesia, Kamboja (98), dan Laos (99).

Berdasarkan penelitian ini, faktor kritis yang memengaruhi keamanan suatu daerah tidak hanya dalam hal kapasitas teoritis di setiap negara dalam hal bertahan dan menetralisisr situasi darurat nasional, melainkan juga kebijakan spesifik, strategi manajemen krisis, dan taktik yang benar-benar dipraktikan oleh pemerintah.

Provinsi di Indonesia pada dasarnya telat dalam melakukan penutupan perbatasan, mengambil keputusan untuk lockdown atau dalam hal ini adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan membekukan kegiatan ekonomi secara keseluruhan dalam menanggulangi pandemi. Imbasnya, negara ini pun mencatatkan jumlah poin yang lebih rendah.

Catatan poin yang rendah ini juga menunjukkan bahwa negara ini lebih memprioritaskan pemulihan ekonomi ketimbang kesehatan publik dan keamanan, dan tidak melakukan pemeriksaan yang merata kepada mereka yang benar-benar rentan terekspos.

Semakin buruk, karena Indonesia dinilai memiliki sumber daya, kapasitas, dan potensi untuk melakukannya, baik oleh pemerintah maupun sektor swasta, namun mereka tidak melakukannya.

Rekor Tertinggi Pasien Positif Kembali Terpecahkan

Selagi pemerintah sedang menggadang-gadang untuk mengembalikan aktivitas perekenomian dengan menuju kepada kebijakan new normal alias kelaziman baru, jumlah pasien positif terinfeksi COVID-19 masih terus meningkat, bahkan mencatatkan rekor terbaru lagi pada hari Rabu (10/6) kemarin.

Kementrian Kesehatan mengumumkan bahwa ada 1.241 kasus positif baru yang terinfeksi COVID-19 pada hari Rabu kemarin, yang membuat jumlah total terinfeksi di Indonesia kini mencapai 34.316.

DKI Jakarta mencatatkan rekor tertinggi lagi dengan mengonfirmasi 157 kasus positif virus corona, yang meningkatkan jumlah kasus hingga 8.503. Namun pada saat ini, Gubernur Anies Baswedan sedang melakukan PSBB Transisi yang bertujuan untuk memulihkan kondisi perekenomian di ibu kota.

Para pekerja kantoran diperbolehkan untuk kembali berkantor, angkutan umum kembali beroperasi secara penuh. Maka jangan heran, jika kasus terinfeksi akan semakin banyak nantinya.