Lebih dari 1.200 Orang Bunuh Diri Selama Lockdown di Nepal
Ilustrasi. (Foto: LAKEYBANGET.COM)

Edisi88 – Pada hari Sabtu (13/6) lalu, wanita berusia 38 tahun, Bhagwati, mencoba untuk melakukan bunuh diri di rumahnya di Dolakha. Anaknya mencoba mencari pertolongan, namun ketika para tetangganya tiba, dia sudah berada dalam kondisi tidak sadar. Dia kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat, dan dinyatakan dalam kondisi kritis.

“Dia dibawa ke rumah sakit kami pada hari Minggu (14/6) pagi,” kata Dr Basudev Karki, seorang psikiater konsultan di Rumah Sakit Jiwa Nepal, kepada Kathmandu Post. “Kondisinya masih kritis.”

Karki mengatakan bahwa Bhagwati merasa stres setelah suaminya kehilangan pekerjaan karena lockdown pandemi virus corona. Keluarganya berada dalam tekanan yang luar biasa untuk membayar pinjaman dan Bhagwati sangat cemas tidak bisa membiayai anak-anaknya, menurut para kerabat.

Pandemi COVID-19 dan lockdown di Nepal, yang telah terlaksana sejak tanggal 24 Maret, telah memberikan gangguan mental yang luar biasa pada masyarakat, dengan memicu isu baru selagi memperburuk yang sudah ada, kata ahli kesehatan publik.

Dalam hal jumlah kasus, permasalahan ini berujung kepada keputusan untuk bunuh diri. Selama 74 hari pertama masa lockdown, ada 1.227 orang di seluruh Nepal yang memilih untuk mengakhiri hidupnya. Dengan demikian, rataan kasus bunuh diri meningkat dari 15,8 per hari menjadi 16,5 per hari, dengan jumlah kasus bunuh diri pada sepanjang tahun lalu berjumlah total 5.785 kasus.

Para dokter mengatakan bahwa lockdown telah memberikan perubahan kepada hidup orang-orang yang takut karena COVID-19. Orang-orang berinteraksi satu sama lain jauh lebih jarang, kehilangan pekerjaan mereka, dan kesulitan untuk membayar tagihan mereka pada setiap bulannya. Peningkatan masalah ekonomi meningkatkan permasalahan kecemasan, stres, dan depresi.

“Ini bisa jadi hanya awal dari banyak orang yang berada dalam tekanan besar,” kata Dr Kamal Gautam, direktur eksekutif di Organisasi Psikososial Transkultural, sebuah organisasi kesehatan mental.

Pada beberapa kasus, bahkan masalah-masalah minor bisa berujung pada konsekuensi yang serius. Pekan lalu, seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun di Kirtipur mencoba untuk bunuh diri setelah berargumen dengan ayahnya yang marah kepadanya karena bermain video game dan menonton televisi sepanjang waktu, kata para dokter. Bocah tersebut pun harus dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa Nepal.

“Bocah tersebut berada dalam kondisi kritis. Para dokter harus merawatnya secara intensif di ICU selama empat hari. Dia sedang memulihkan diri sekarang,” kata Karki.

Selasa situasi stres yang tinggi karena kejadian seperti pandemi, bencana alam, dan perang, kesehatan mental orang-orang sering menjadi perhatian, kata Gautam. Kasus kelainan seperti depresi, kecemasan, psikosis, dan skizofrenia cenderung meningkat secara signifikan, terkadang pada rasio tiga hingga lima persen, katanya.

Permasalahan mental selama pandemi sendiri tidak hanya dihadapi oleh Nepal, melainkan juga di seluruh dunia. Dampak yang disebabkan oleh pandemi terhadap kesehatan mental sangat mencemaskan Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jenderal di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Isolasi secara sosial, ketakutan terinfeksi, dan kehilangan anggota keluarga diperparah oleh tekanan yang disebabkan oleh kehilangan pendapatan dan juga pengangguran,” kata Dr Tedros.

Agensi Kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut mengatakan bahwa pandemi COVID-19 menegaskan kembali perlunya investasi terhadap pelayanan kesehatan mental, atau risiko dari peningkatan masif kondisi kesehatan mental dalam beberapa bulan ke depan.

“Ini harusnya berarti membantu pasien untuk mendapatkan resep baru dan dalam kebanyakan kasus, farmasi tidak memberikan obat-obatan psikiatrik tanpa resep dari dokter,” kata Gautam