Takuya Matsunaga, pemain Persipura Jayapura (Sumber: Jawapos).

Kiper andalan Persipura Jayapura, Dede Sulaiman, berujar bahwa tim Persipura Jayapura hingga saat ini belum menyatakan diri untuk kembali berkumpul.

Hal ini menyusul wacana pemutaran kembali Liga 1 yang diembuskan oleh PT Liga Indonesia Baru selaku operator Liga.

Selain wacana kelanjutan kompetisi, PT LIB juga melontarkan protokol kesehatan yang bisa dipakai kala kompetisi kembali dijalankan.

“Belum ada kabar dan belum tahu kapan kita akan kembali berkumpul untuk berlatih secara penuh,” ujar Dede, dilansir dari Indosport, Sabtu (20/06/20).

Meskipun demikian, eks Kiper Sriwijaya FC ini mengungkap bahwa komunikasi antara para pemain, staf pelatih, dan manajemen Persipura Jayapura masih tetap terjaga.

Terlebih lagi, Dede dan kawan-kawan tetap berlatih secara mandiri dan kerap kali menjalankan latihan dengan fasilitas daring dengan dipantau langsung oleh Pelatih Kepala, Jacksen F. Tiago.

“Kami setiap hari ada pertemuan yang dilakukan secara daring agar kebugaran terus terjaga di masa pandemi virus corona ini,” imbuh Dede Sulaiman.

Persipura Jayapura sendiri hingga kini belum menyatakan sikap perihal rencana kelanjutan Liga 1.

PSSI sendiri baru saja merilis bahwa Liga 1 bakal berlanjut pada September dan Oktober 2020 mendatang.

Kepastian ini diperoleh PSSI melalui rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI pada Rabu (17/06/20) melalui sambungan virtual.

Sebelumnya, Bek kawakan Persipura Jayapura, Ricardo Salampessy, angkat bicara soal rencana pemutaran kembali kompetisi Liga 1 2020.

Menurut eks bek kanan tim nasional Indonesia ini, ia setuju jika Liga 1 2020 kembali dihelat, meskipun tak dihadiri penonton.

 “Wacana itu baik juga, tetapi ruh pertandingan bola akan hilang karena pertandingan digelar tanpa penonton,” ucap bek kanan kelahiran Ambon, Maluku, 18 Februari 1984 ini.

Selain itu, jika kompetisi dipaksa untuk kembali digulirkan, perlu pemeriksaan yang ketat untuk menghindari penularan.

Hal ini penting mengingat virus corona masih berjangkit di beberapa wilayah di Indonesia.

“Kita mesti memikirkan risikonya juga untuk para pemain di lapangan,” ujar Ricardo.