PB Suryanaga.

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, empat tahun berselang sebuah klub bulutangkis amatir lahir di Surabaya dan dinamai Persatuan Bulutangkis (PB) Suryanaga.

Dari klub ini lahir banyak putra bulutangis berkaliber dunia dan banyak memberikan prestasi bagi Indonesia selama 71 tahun berdiri, terutama dalam raihan Piala Thomas.

Dilansir dari Indosport.com, hanya beberapa tahun  setelah PB Suryanaga terbentuk, mereka melahirkan sosok Koesbianto Setiadharma Atmaja  yang berprestasi bagi negeri ini di era 50-an.

Dia tercatat sebagai atlet Indonesia kali pertama yang meraih Piala Thomas zona Australasia dalam event yang digelar di Singapura, 1958.

Tiga tahun berselang, Koesbianto mampu mempertahankan gelarnya dengan meraih kembali Piala Thomas di kandang sendiri, pada 1961 dan beberapa gelar BWF Series seperti Malaysia Open hingga Singapore Open.

Mantan Pebulutangkis PB Suryanaga, Jacob Rusdianto mengatakan kecemerlangan pria yang memiliki nama lain Nyo Kiem Bie itu tidak lain karena dilatih Nio Siek In atau lebih deikenal dengan nama Zulkarnaen Kurniawan.

Sosok Zulkarnaen Kurniawan ini juga merupakan ayah dari legenda bulutangkis Indonesia di era 70-an hingga 80-an yakni Rudy Hartono. Sehingga lewat tangan dingin sang ayah,

Rudy Hartono juga berhasil menjadi seorang pebulutangkis dunia dengan berhasil meraih World Championships 1980 di Jakarta

“Sosok Zulkarnaen Kurniawan, adalah tokoh yang berhasil menjadikan PB Suryanaga ini sebagai klub legendaris saat ini.”

“Dari beliau, kami tidak pernah berhenti menyumbangkan atlet di kancah bulutangkis nasional dan internasional, ” ucap Jacob Rusdianto.

Dari tangan Zulkarnaen Kurniawan itu, PB Suryanaga terkenal dengan atlet yang memiliki kecepatan, pernapasan yang baik, konsistensi dan agresfiras.

Empat hal itu menjadi elemen penting dari seorang pebulutangkis untuk bisa terus berkembang dan berprestasi.

Tiga Pebulutangkis Dunia Terlahir di Tiga Dasawarsa Terakhir

Klub yang bermarkas di Jalan Dharmahusada Indah Barat, Surabaya itu dalam tiga dasawarsa terakhir melahirkan beberapa nama yang akhirnya juga mengikuti kiprah para seniornya.

Di era 90-an muncul nama Alan Budikusuma yang merupakan jebolan PB Suryanaga yang sempat menjadi pebulutangkis nomors satu di dunia.

Suami dari Susy Susanta ini berhasil meraih medali emas Olimpiade Barcelna 1992, meraih juara Kejuaraan Dunia 1991.

Merebut gelar di China Open 1991, menjadi kampiun Piala Dunia 1993, dan meraih juara bersama tim putra Indonesia di Piala Thomas 1996.

Raihan Piala Thomas itu mengingatkan pada kegemilangan Koesbianto di 1958 dan 1961.

Selanjutnya di era 2000-an ada nama Alvent Yulianto yang juga berprestasi di Piala Thomas.

Bahkan pebulutangkis ganda putra ini meraih juara Piala Thomas sebanyak empat kali yakni 2004, 2006, 2010, dan 2012 bersama tim putra Indonesia.

Selain itu juga empat kali membawa Indonesia meraih gelar juara Sudirman Cup di 2003, 2005, 2007, dan 2011.

Hal ini berkat gemblengan PB Suryanaga sejak Alvent Yulianto berusia 10 tahun. Selama berkarit, Alvent Yulianto kerap berpasangan dengan Luluk Hadiyanto.

Ganda putra ini berhasil mempersembahkan dua medali emas SEA Games di 2003 dan 2007.

Selain itu mereka juga meraih gelar Indonesia Open, Singapore Open hingga Thailand Open.

Terakhir, di satu dasawarsa ini ada nama Sony Dwi Kuncoro yang merupakan allet tunggal putra bulutangkis Indonesia jebolan PB Suryanaga.

Dia masuk ke klub itu di usia delapan tahun. Namun dalam perjalanan karirnya, pada 2014 dirinya bergabung dengan PB Tjakrindo Masters.

Berkat didikan PB Suryanaga, Sony Dwi Kuncoro berhasil juga meraih Piala Thomas 2002 bersama tim putra Indonesia.

Dia juga meraih lima medali emas SEA Games di nomor tunggal putra dan juga beregu. Adapun di PB Suryanaga dia berlatih selama 13 tahun.

Dalam kurun waktu itu, pria yang kini berusia 35 tahun itu berhasil memenangkan menjuarai Chinese Taipei Masters, Indonesian Masters, Thailand Open hingga Chinese Taipei Open.