Okto Maniani

Oktovianus Maniani, pemain asal Papua yang namanya sempat terkenal di pecinta sepak bola Indonesia dalam beberapa tahun ke belakang, terutama berkat penampilannya yang memukau di Piala AFF 2010.

Di bawah asuhan Alfred Riedl, Okto menjelma sebagai pemain muda yang sangat menjanjikan kala itu dan banyak diprediksi banyak orang akan berkarier di kompetisi Eropa pada masa depan.

Harapan serta ekspetasi besar yang diterima Okto, pada akhirnya hanya membuat sang pemain meredup, terlepas dari banyaknya insiden yang menerpa sang pemain di luar lapangan hijau.

Popularitas yang datang sangat cepat kepada Okto gagal diatasi sang pemain, mulai dari sikap indisipliner hingga gemerlapnya dunia entertaiment, yang berperan dalam kemerosotannya.

Bagai kembang yang layu sebelum mekar, Okto mengalami siklus yang hampir serupa ketika kariernya meredup disaat namanya sedang berkembang.

Indisipliner, Penyebab Utama Penurunan Karier Okto

Riedl ketika masih membesut Okto di Timnas Indonesia senior, sudah berulang kali mengatakan agar pemain sayap itu dapat bersikap dengan lebih disiplin.

Namun, perkataan Riedl tidak pernah mendapat gubrisan dari Okto yang emosinya pada saat itu masih belum stabil, sikap yang menjadi akar permasalahan dalam kariernya.

Terdapat beberapa sikap indisipliner yang dilakukan Okto dan mungkin, salah satu yang paling mencuri perhatian publik ketika pemain sayap ini berkelahi dengan wasit ketika bermain di Liga 2.

Membela Persewar Waropen ketika menghadapi Mitra Kukar, Okto yang kesal dengan keputusan wasit, tidak pikir panjang untuk mencopot gagang bendera sepak pojok untuk ditancapkan ke perut wasit.

Sikap seperti itu, tentu saja sangat tidak dapat diterima dan Okto masih cukup beruntung, karena dirinya hanya mendapat hukuman tidak boleh bermain sepak bola selama 6 bulan.

Jadi Bintang Sinetron Hingga Doyan Ganti Klub

Penyebab lain yang membuat karier Okto meredup adalah ketidakfokusan sang pemain dalam profesinya setelah beberapa kali menjadi bintang iklan dan bahkan bermain sinetron.

Okto tercatat selain menjadi brand ambassador pada beberapa produk saat kariernya melonjak, ia juga sempat terlibat dalam sinetron yang berjudul Tendangan Si Madun 2.

Keputusan Okto untuk terjun ke dunia entertaiment tidak bisa disalahkan sepihak karena dalam beberapa tahun terakhir, PSSI juga selalu dirundung konflik yang membuat pemain tidak bisa bekerja.

Namun, terlepas dari semua alasan, keterlibatan Okto membuatnya tidak fokus dalam kariernya sebagai pemain sepak bola profesional dan hal itu juga terlihat dari keseringannya berganti-ganti klub.

Tercatat sudah terdapat 10 klub berbeda di Indonesia yang diperkuat Okto, statistik yang menunjukkan sang pemain lebih senang mencoba tantangan baru dibandingkan fokus pada satu tujuan.