Logo IBL. (FOTO: IBL)

Pasca kasus meninggalnya pria kulit hitam, George Floyd, seruan anti rasisme terus menggema. Dukungan dengan tagar BlackLivesMatter pun ramai di media sosial, termasuk Instagram.

Para pemain Indonesia Basketball League (IBL) pun turut menyuarakan anti rasisme di media sosial mereka.

Salah satu penggawa dari Pelita Jaya Bakrie Jakarta, yaitu Gabriel Batistuta Risky menuliskan kalimat “Terlalu banyak cinta di udara” disertai tagar BlackLivesMatter.

Ia menulis bersama dengan unggahan foto dirinya dengan salah satu pemain asing Pelita Jaya.

Bintang Louvre Surabaya, Daniel Wenas juga menyuarakan hal serupa. Di akun Instagram-nya, Daniel mengunggah foto dengan rekan-rekannya dan menuliskan kalimat dukungan terhadap anti rasisme.

“We all bleed the same colour, racism and racist violence has no place in our society,” tulis Daniel dalam bahasa Inggris.

Sementara itu penggawa Pacific Caesar Surabaya, Yerikho Christopher Tuasela, di akun Instagram-nya juga mengecam keras tindakan rasisme.

Menurut Yerikho, tak ada seorang pun yang dilahirkan untuk menyakiti orang lain karena warna kulit, latar belakang, atau agamanya.

“Orang bisa membenci jika mereka tahu caranya membenci, mereka juga bisa diajarkan cinta, karena cinta pada dasarnya datang dari hati masing-masing,” ungkap Yericho.

Adapun pemain Prawira Bandung, Adrian Danny Christianto mengunggah foto hitam dan menyertainya dengan tagar #blackouttuesday di akun Instagram-nya.

Seperti diketahui, kejadian nahas menimpa George Floyd, di mana warga kulit hitam tersebut meninggal dunia pada pekan lalu setelah seorang anggota kepolisian Minneapolis melakukan kekerasan terhadap pria 46 tahun itu.

Dari hasil otopsi yang dirilis pada Senin lalu menyatakan bahwa Floyd meninggal dunia karena ada cekikan di lehernya yang membuat ia sulit bernapas dan mengembuskan napas terakhirnya.

Dengan adanya beberapa saksi di lokasi kejadian dan sempat memfoto kejadian, akhirnya kabar tersebut langsung didengar oleh masyarakat seluruh dunia. Hal itu pun memicu gelombang kemarahan di seantero AS bahkan di beberapa bagian dunia.

Adapun petugas polisi yang melakukan kekerasan terhadap Floyd, Derek Chauvin, didakwa melakukan pembunuhan tingkat tiga. Ia dianggap melakukan kelalaian yang berakibat pada hilangnya nyawa George Floyd.