Pelatih Persik Kediri, Joko Susilo.

Pelatih Persik Kediri, Joko Susilo, menyebut opsi menggelar kembali kompetisi Liga 1 dengan penerapan protokol kesehatan adalah hal yang sangat masuk akal.

Penerapan tersebut penting, mengingat masa pandemi COVID-19 belum berakhir.

Opsi itu sama dengan apa yang diterapkan oleh Bundesliga, yang melanjutkan kompetisi dengan protokol kesehatan secara ketat pada semua perangkat pertandingan.

“Protokol kesehatan di kompetisi luar negeri, bisa diadopsi. Ya memang akan sulit dijalani.”

“Jadi, menggelar pertandingan dengan protokol kesehatan, bagi saya, sangat masuk akal,” ujar Joko dikutip dari Indosport, Minggu (07/06/2020).

Sejauh ini, PSSI juga sedang merumuskan bagaimana protokol kesehatan yang akan diterapkan nantinya jika Liga 1 dilanjutkan.

Apalagi, PSSI sudah mewacanankan akan menjalankan kompetisi kembali pada September atau Oktober mendatang.

“Kalau semuanya sehat, apa yang dikhawatirkan lagi. Lagipula semua tim nanti berada dalam satu camp, jadi tidak masalah,” ujar mantan pelatih Arema tersebut.

Persik baru menjalani tiga laga dari 34 pekan kompetisi musim ini. Macan Putih mengawali kembalinya klub tersebut ke Liga 1 saat menahan imbang 1-1 Persebaya di Surabaya.

Serta menjamu Bhayangkara FC dan Persiraja Banda Aceh di Stadion Brawijaya Kediri.

Sementara itu CEO Persik Kediri, Abdul Hakim Bafagih menyatakan setuju dengan opsi liga dilanjutkan dengan sentralisasi jadwal di Pulau Jawa.

Bagi tim Macan Putih, ada dua keuntungan yang bisa diambil yakni tidak perlu menghabiskan tenaga dan waktu lebih banyak.

Saat menjalani laga-laga away pada jadwal kompetisi berikutnya. Keuntungan yang kedua, adalah semakin hematnya biaya operasional.

Persik tak perlu merogoh kocek dalam-dalam hingga ratusan juta rupiah untuk ke Papua, jika Persipura bermarkas di Jawa Timur atau Jawa Tengah.

Meski demikian, kata Abdul Hakim, pihaknya masih perlu penjelasan lebih lanjut perihal opsi tersebut.

Apakah Persik yang harus menanggung akomodasi dan transportasi tim-tim lawan selama bertanding di Kediri, atau dibebankan kepada klub masing-masing.