Debby Susanto.

Bagi Debby Susanto, pengalaman horor memang lekat di awal karier bulutangkisnya belasan tahun lalu.

Setelah sempat bercerita terkait pengalaman menakutkan saat mengikuti kejuaraan junior di Belanda, perempuan yang sudah gantung raket Februari 2019 itu juga pernah mengalami hal serupa saat kali pertama datang ke Jakarta untuk bergabung disebuah klub bulutangkis.

Kembali bercerita di channel Youtube pribadinya pada Sabtu (13/06/20), Debby Susanto menyebut kejadian itu terjadi tiga hari selama dia datang di asrama klub yang tidak disebutkan namanya itu.

Peristiwa horor ini membuatnya sempat tak betah karena di hari kelima dia demam dan berniat untuk pulang.

”Sampai di Jakarta aku langsung masuk di asrama. Waktu itu posisi lapangannya di (area) bawah dan asrama di tingkat dua dan tingkat tiga. Tingkat tiga itu biasanya untuk pemain dari luar negeri,” kata Debby Susanto mengawali cerita.

Di asrama itu rencananya perempuan kelahiran Palembang, 3 Mei 1989 ini satu kamar dengan temannya yang bersana Andri di lantai dua. Namun karena belum disiapkan dia harus tidur di lantai tiga.

Debby Susanto juga terpaksa harus berada di kamar sendiri karena rekannya belum datang ke Jakarta. Kejadian ini saat Debby Susanto masih berusia belasan tahun.

“Di situ ada tiga kamar dan satu WC kalau enggak salah. Saat aku naik kali pertama itu sebenarnya udah berasa nggak enak. Apalagi sendirian, bayangin dong sendirian,” kata perempuan yang saat aktif bermain berpasangan dengan Praveen Jordan di nomor ganda campuran itu.

Saat itu Debby Susanto berusaha berpikir positif demi menghilangkan rasa takut. meskipun berada sendirian di lantai tiga. Namun di malam pertama, dia mendengar sebelah kamarnya berisik dan berpikir sudah ada pebulutangkis lain yang datang.

“Tetapi pas aku keluar kamar kok sepi, ah udahlah tidur lagi karena besok pagi harus latihan untuk kali pertama. Pas mau tidur, (suara) berisik banget dan ada suara anak kecil lari-lari,” lanjutnya.

Kejadian itu membuatnya menelpon sang ibu. Debby Susanto diminta banyak berdoa dalam pembicaraan telepon itu.

Kemudian di hari keempat dia pindah ke lantai dua karena kamar yang seharusnya dia tempati sudah siap. Di sini kejadian horor yang lebih menakutkan dia alami.

“Setelah beres-beres aku tidur. Pas lagi tidur, tiba-tiba badanku nggak bisa gerak, tetapi aku sadar waktu itu. Pas aku lihat di atas lemari, ada yang lagi duduk di atas lemari dan mukanya kelihatan jelas sambil ngelihatin aku,” ungkapnya.

Debby Susanto mengaku tidak bisa berteriak. Dia mengaku hanya bisa menangis dan tubuhnya gemetar.

Lalu saat dia bisa bergerak, makhluk itu hilang tidak tampak lagi di atas lemari.

“Aku langsung tutup muka pakai selimut nggak berani buka lagi sampai pagi. Besok paginya aku langsung demam tinggi. Di situ aku telepon lagi ke mama aku, nangis mau pulang nggak berani di sendiri takut,” tandas Debby Susanto.

Namun pada akhirnya, dia tetap bertahan berada di Jakarta dan tidak jadi pulang ke rumah.

Perjuangan menghadapi ketakutan ini akhirnya membuat dia menjadi pebulutangkis sukses dan mengantongi banyak gelar, seperti medali emas SEA Games 2013 dan 2015 bersama Praveen Jordan.