Bruno Silva dan skuat PSIS Semarang merayakan gol di pertandingan Liga 1 2020 (sumber: tribunnews.com)

PSIS Semarang mulai berhitung biaya tes untuk mendeteksi virus corona (Covid-19) untuk pemain hingga  ofisial jika Liga 1 2019 dilanjutkan PSSI pada September 2020.

Mahalnya biaya tes dari hasil perkiraan manajemen PSIS, membuat mereka meminta PSSI menanggung fasilitas yang cukup penting itu jika ingin kompetisi kembali digulirkan kembali.

Dilansir dari Indosport.com, General Manager PSIS yakni Wahyoe Winarto melihat tes kesehatan yang wajib dilakukan setiap sebelum pertandingan itu butuh dana besar.

Pria yang akrab disapa Liluk ini mengungkapkan biaya swab test bisa mencapai Rp 2,5 juta per orang atau bisa juga rapid test yang menghabiskan Rp 350 ribu per orang.

Hal itu dikalikan 18 pemain yang biasa ada di line up sebuah pertandingan. Belum tim pelatih yang minimal berjumlah empat orang, dan ofisial tim yang minimal ada lima orang setiap laga. Alias bisa sampai 30 orang.

“Kalau soal biaya tes kesehatan, kami dari awal memang meminta PSSI untuk menanggung segala kebutuhannya.”

“Sebab biaya yang dikeluarkan untuk tes semacam swab test atau rapid test tidak sedikit,” ungkap Liluk, Kamis (11/06/20).

Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Semarang ini juga berhitung saat PSIS menyelenggarakan laga kandang.

Tidak hanya komponen tim, panitia penyelenggara juga butuh tes yang sama.

”Selain pemain dan ofisial tim yang sekitar 30 orang. Belum biaya lain-lainnya. Misal partai kandang gitu, ada panpel juga, ada pihak keamanan juga. Itu biayanya tidak sedikit,” lanjut Liluk.

Tes kesehatan merupakan salah satu komponen protokol yang harus dilakukan dalam sebuah laga.

Hal ini juga diterapkan di Bundesliga Jerman yang sudah menjalankan kompetisi kembali sejak 15 Mei 2020.

Jika ada komponen pertandingan yang tidak di tes dan ternyata terinfeksi Covid-19, laga itu bisa menjadi kluster penyebaran virus yang berasal dari Wuhan.

Sehingga tes kesehatan dari Covid-19 tidak bisa dikesampingkan.

”Kalau dibebankan kepada klub, biaya pengeluaran akan membengkak cukup besar. Apalagi rencananya pertandingan digelar tanpa penonton.”

“Sehingga klub-klub peserta Liga 1 termasuk kami tidak akan mendapat masukan dari tiket pertandingan,” tandas pria bertubuh gempal ini.