Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). (sumber: FOTO ANTARA)

Legenda bulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat, mampu tampil sebagai pembuka gerbang bagi para mantan bintang atlet PBSI.

Akibat kasus hukum yang menimpa mantan Menpora, Imam Nahrawi, Taufik Hidayat yang sudah lama pensiun dari dunia bulutangkis.

Kembali masuk pemberitaan karena pledoinya, Imam Nahrawi menyeret nama dirinya agar ikut ditetapkan sebagai tersangka juga.

“Seharusnya bila ini dipaksakan menjadi perkara suap, secara logika Taufik Hidayat juga jadi tersangka suap (meski) sebagai perantara,” kata Imam di gedung KPK (19/06/20).

Terlepas dari kasus hukum yang sedang menghantuinya, Taufik Hidayat tetaplah legenda bulutangkis Indonesia.

Bagaimana tidak, hanya Taufik Hidayat yang bisa menorehkan prestasi mentereng dengan perolehan 2 medali emas Asian Games, 1 Olimpiade, 6 Indonesia Open dan ranking 1 dunia di usia baru 17 tahun.

Capaian tersebut membuat Taufik Hidayat masih digemari oleh pecinta bulutangkis Tanah Air.

Sementara di mata sesama pebulutangkis, Taufik Hidayat tak hanya dianggap rival, panutan atau mentor.

Tetapi juga sebagai pembuka gerbang atlet bulutangkis lainnya untuk buka suara terkait keluh kesahnya selama di PBSI.

Taufik Hidayat sudah lebih dulu blak-blakan mengenai pandangannya tentang federasi bulutangkis nasional tersebut.

Dalam wawancara eksklusif Taufik Hidayat dengan, Deddy Corbuzier, terungkapl keluh kesah sang legenda, mulai dari kasus Imam Nahrawi hingga PBSI yang tidak semua anggotanya tahu tentang bulutangkis.

“Awalnya, sebelum mereka jadi pengurus di sana, mereka bisa-bisanya minta ketemu gue setiap hari, minta masukan.”

“Begitu masuk jadi pengurus, gue ditendang,” ujar Taufik Hidayat dalam akun Youtube milik Deddy Corbuzier.

“Gue masuk ke PBSI saja, mereka takut. Gue orang bulutangkis juga loh. Gue enggak diterima di sana.”

“Banyak yang takut gue ada di situ (PBSI). Makanya bagaimana caranya gue dimatiin, enggak bisa gerak,” imbuh pria 38 tahun itu.

Bagi Taufik Hidayat, selama politik ada dalam bulutangkis, maka prestasi akan sulit diraih.

Setelah Taufik Hidayat berani vokal tentang PBSI, barulah mantan bintang atlet bulutangkis lainnya ikut buka suara.

Dimulai dari pemain ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad yang mengundurkan diri dari pelatnas dan memilih gantung raket pada Senin (18/05/20).

Tontowi Ahmad kemudian membongkar perlakuan PBSI kepadanya yang membuat ia kecewa perihal statusnya sebagai pemain magang.

“Saya keberatan karena status magang biasanya untuk pemain junior yang mau masuk pelatnas.”

“Saya masih kompetitif dan bisa mengalahkan pasangan 10 besar dunia. Saya tidak sejelek itu untuk dibuang,” ungkap Tontowi Ahmad.

Menanggapi pernyataan Tontowi Ahmad, Sony Dwi Kuncoro pun ikut berkomentar di akun media sosialnya.

Sony yang pernah jadi andalan tunggal putra Indonesia ini ikut curhat mengenai perlakuan PBSI padanya terkait proses degradasi.

“Tahun 2014 saya meninggalkan pelatnas PBSI dengan cara yang menurut saya kurang menghargai saya yang sudah 13 tahun di Pelatnas. Pada waktu itu saya masih ranking 14 dunia,” jelas Sony.

Sony menyayangkan kabar terdegradasi dirinya justru pertama kali ia ketahui dari media massa, bukan dari pengurus atau jajaran pelatih.

Parahnya lagi, surat degradasi yang diterima Sony diberikan kepada dirinya melalui karyawan biasa di PBSI, bukan pengurus harian.

Pernyataan Tontowi dan Sony mungkin tak akan terlontar jika saja tak ada perkataan Taufik Hidayat.

Setidaknya, pernyataan para bintang bulutangkis tersebut mampu membuka mata pecinta olahraga ini tentang apa yang terjadi pada mereka.