PSCS Cilacap (sumber: indosport.com)

Pelatih PSCS Cilacap, Jaya Hartono, meminta PSSI untuk mempertimbangkan kembali keputusan soal melanjutkan kompetisi sepak bola Indonesia di tengah pandemi virus corona.

Wacana yang ramai beredar belakangan ini adalah dua kompetisi tertinggi di tanah air, yaitu Liga 1 dan Liga 2, akan digelar lagi pada bulan September mendatang, dengan beberapa catatan yang disesuaikan protokol kesehatan wabah virus corona.

Salah satu yang terutama adalah kesepakatan mengenai protokol kesehatan bagi para pemain dan para staf klub serta orang-orang yang terlibat dalam pertandingan.

Di negara-negara lain di seluruh dunia, sepak bola bisa dilanjutkan dengan mengosongkan stadion demi mencegah resiko infeksi, selagi para pemain dan para staf juga mendapatkan pemeriksaan secara berkala pada setiap pekannya.

Banyak hal yang harus dipenuhi agar kompetisi sepak bola bisa digelar lagi di berbagai negara di seluruh dunia, dan pelatih PSCS, Jaya Hartono, menganggap PSSi harus berpikir ulang jika ingin melanjutkan Liga 1 dan Liga 2 dalam kondisi seperti sekarang ini.

“Karena sangat urgent, jadi PSSI perlu menimbang ulang sebelum mengambil keputusan melanjutkan kompetisi. Banyak faktornya, mulai dari kondisi di daerah, format kompetisi, dan sebagainya,” tutur Jaya, sebagaimana yang dilansir dari Indosport.

Saat pandemi virus corona merebak pada bulan Maret lalu, Liga 1 baru menggelar tiga pekan pertandingan, selagi Liga 2 baru satu pekan, jadi sisa kompetisi musim 2020 masih sangat panjang.

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh PSSI adalah dengan mengubah format kompetisi menjadi sistem home tournament atau turnamen yang terselenggara secara terpusat di satu daerah saja.

Namun Jaya juga mengkritik solusi tersebut, karena akan memerlukan biaya operasional yang tinggi, selagi subsidi dari PSSI, yang kabarnya bernilai 200 juta rupiah per bulan, dinilai kurang.

“Apakah subsidi untuk klub nanti bisa memenuhi akomodasi? Kalau misal home tournament bisa [dilaksanakan] berarti tim harus selama sekitar 1,5 bulan di satu kota, tentu biaya besar untuk penginapan,” sambung Jaya.

“Kita juga tidak tahu apakah tim dan para pemain bisa diberangkatkan nantinya, karena sekarang kan ada aturan ketat. Makanya, saya rasa butuh pertimbangan matang sebelum akhirnya diputuskan,” pungkasnya.