Bagi Seto Nurdiyantoro, selama menjalani karier sebagai pesepakbola di medio 1990 sampai 2013, Pelita Solo adalah klub perantauan terjauh yang pernah dibelanya.

Namun dalam masa-masa meninggalkan Kota Yogyakarta tersebut, pria yang kini fokus melatih klub ini menjadi penyelamat klub Kota Bengawan itu dari degradasi di Liga Indonesia 2001.

Dilansir dari Indosport.com, Seto Nurdiyantoro seperti sudah ditakdirkan meraih prestasi saat membela klub-klub di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dari sebagai pemain dan pelatih. Namun semuanya diraih di level kasta kedua.

Seperti saat membawa juara Divisi Utama (kasta kedua setelah Indonesia Super League) 2010-2011 bersama Persiba Bantul sebagai pemain. Selain itu Seto Nurdiyantoro membawa juara PSS Sleman di Liga 2 2018 sebagai pelatih.

Adapun pria kelahiran Sleman, 14 April 1974 ini mengawali karier sebagai pemain profesional di 1990 di klub kampung halamannya yakni PSS Sleman sampai 1995.

Di 1995, dia pindah ke rival se-provinsi klub berjuluk Super Elang Jawa itu yakni PSIM Yogyakarta. Di Klub Ibu Koya DIY, Seto Nurdiyantoro kariernya mulai melejit sebagai penyerang muda haus gol.

Sehingga dipinang Pelita Solo hingga 2001. Nah di klub Jawa Tengah ini, dia nyaris mengalami masa suram karena klub yang dia bela terancam terperosok ke jurang degradasi.

Bayang-bayang turun kasta itu mulai menghantui saat kalah dari tamunya yakni PS Barito Putera di Stadion Manahan pada 13 Juni 2001. Di momen itu gol penalti Seto Nurdiyantoro bisa menyelamatkan Pelita Solo dari kekalahan dengan skor 1-2.

Sebab sebelum gol Seto Nurdiyantoro, penyerang asing Laskar Antasari yakni Bako Sadissou sudah mengemas dua gol. Seto Nurdiyantoro pun masih mengenang momen itu.

“Musim itu memang cukup berat bagi kami. Mengandalkan banyak pemain muda dan harus menunggu hingga pekan-pekan terakhir untuk lolos dari degradasi,” kenangnya.

Menjadi top skor tim dengan 13 gol, Seto Nurdiyantoro akhirnya bisa menyematkan Pelita Solo dari degradasi lewat quattrick yang dia ciptakan saat Pelita Solo mengalahkan PSS Sleman dengan skor 4-1.

Akhirnya, klubnya tidak jadi terdegradasi dan tiga klub yang harus turun kasta saat itu yakni Persijap Jepara, Persma Manado, dan Putra Samarinda.

Kiprah di musim itu sangat berkebalikan dengan pencapaian Pelita Solo di musim sebelumnya. Sebab klub milik Nirwan Bakrie itu berhasol masuk delapan besar Liga Indonesia 1999-2000.

Lebih Moncer Secara Individu

Di saat menyematkan Pelita Solo dari degradasi itu, Seto Nurdiyantoro lebih berprestasi secara individu. Selain mencetak 13 gol di Ligina 2001, dia juga menjadi andalan Tim Nasional Indonesia.

Bersama Tim Merah Putih, Seto Nurdiyantoro mendapat kesempatan 14 kali bertanding di level internasional. Selain itu tiga gol berhasil dia catatkan bagi Skuad Garuda.

Pengabdian Seto Nurdiyantoro di Timnas Indonesia ini sudah dilakukan sejak 1999. Barulah prestasi bersama klub dia raih saat membela Persiba Bantul di Divisi Utama 2010-2011 dengan meraih kampiun.

Setelah dari klub berjuluk Laskar Sultan Agung itu, Seto Nurdiyantoro kembali ke PSIM Yogyakarta. Membela Laskar Mataram dari 2011, akhirnya dia gantung sepatu di klub tersebut pada 2013.

Kini Seto Nurdiyantoro juga melatih PSIM Yogyakarta di Liga 2 2020, setelah tidak lagi membesut PSS Sleman. Di karir kepelatihan dia sudah mengantongo Lisensi AFC Pro yang diambilnya di 2019.

Di usia 45 tahun, dia digadang-gadang menjadi pelatih yang bisa meraih banyak prestasi di level klub. Seto Nurdiyantoro juga diharap ke depan punya andil di kepelatihan timnas, sebagaimana dia mengabdi di skuad Indonesia saat menjadi pemain.